SANDRA's Multiply Site

Blog EntryPEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PENYAKIT TUBERKULOSISMay 14, '08 2:49 AM
for everyone

Penyakit infeksi yang cukup sering diderita oleh masyarakat Indonesia adalah penyakit Tuberkulosisi (TB) paru. Penyakit ini dapat menyerang semua umur dan terutama pada usia produktif (dewasa muda). Dalam menentukan adanya penyakit ini pada seorang penderita seringkali seorang dokter memerlukan pemeriksaan penunjang selain
pemeriksaan fisik yang dilakukannya. Hal ini dilakukan karena  seringkali gejala penyakit TBC yang timbul tidak khas dan menyerupai penyakit lainnya sehingga seringkali disebut sebagai the great imitator.

Pemeriksaan penunjang ini juga bertujuan untuk menentukanklasifikasi TB (jika terbukti) yang akan berdampak pada jenis pengobatan yang dilakukan (lihat topik mengenai pengobatan TB). Pemeriksaan yang cukup penting adalah pemeriksaan radiologik, pemeriksaan bakteriologik (dari sputum/dahak), pemeriksaan darah dan pemeriksaan uji kulit.  

Pemeriksaan radiologik standar ialah foto rentgen dada (paru) dari arah depan dengan atau tanpa foto (tampak samping) lateral. Pada  pemeriksaan foto toraks TB dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk (multiform) sehingga sering disebut sebagai the great imitator.  

Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai kelainan TB yang masih aktif, bila didapatkan gambaran bayangan berawan / nodular di bagian tas paru, gambaran kavitas (lubang pada paru), terutama lebih dari satu yang dikelilingi oleh bayangan opak (putih) berawan atau nodular, bayangan bercak milier (berbintik-bintik putih seukuran
jarum pentul) yang berupa gambaran nodul-nodul (becak bulat) miliar yang tersebar pada lapangan paru, dan gambaran berupa efusi pleura (terdapatnya cairan pada selaput paru).  

Sedangkan pada gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif, bila didapatkan gambaran fibrotik (jaringan penyembuhan luka seperti serabut putih yang halus) pada bagian atas paru, gambaran kalsifikasi (perkapuran yang tampak putih), atelektasis (jaringan paru yang tidak mengembang), fibrothorax dan atau penebalan pleura (selaput pelapis paru-paru). Pada tuberkulosis kronis dapat terjadi pneumothoraks (timbulnya udara yang mendesak jaringan paru-paru)dengan atau tanpa efusi (cairan), yang secara radiologis memberikan gambaran radiolusen (lebih hitam) dengan corakan bronkovaskuler (paru) menghilang pada pleura yang terisi udara, gambaran kolaps, cairan, atau desakan jantung.

Pemeriksaan bakteriologik untuk menentukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yangsangat penting dalam penegakkan diagnosis(sebagai alat diagnostik pasti).
Bahan yang dapat digunakan ialah dahak, bilasan bronkus, jaringan paru, cairan pleura dll.

Macam - macam pemeriksan bakteriologik ialah ; Pemeriksaan yang
menggunakan mikroskop biasa yang diberikan pewarnaan khusus dimana bakteri M. tuberculosis akan tetap tahan terhadap asam (tetap memberikan warna merah) sehingga disebut sebagai
bakteri tahan asam (BTA). Dahak diambil sebanyak 3 x yaitu dahak sewaktu, pagi dan sewaktu yang dilakukan secara berturut - turut. 

Bila didapatkan hasil 2 x positif maka dikatakan mikroskopik BTA (+), bila 1 x positif, 2 x negatif maka pemerisaan BTA perlu diulang kembali. Pada pemeriksaan ulangan didapatkan 1 x positif maka dikatakan mikroskopik BTA (+), sedangkan bila 3 x negatif dikatakan mikroskopik BTA (-).

Untuk memastikan jenis kuman yang menginfeksi juga dapat dilakukan pemeriksaan biakan / kultur kuman dari dahak yang diambil.  

Pemeriksaan yang lebih mutahir yaitu dengan meneliti darah (pemeriksaan serologi) penderita dan memeriksanya dengan berbagai metoda yaitu, ELISA, Mycodot, test PAP, Dot – EIA, TB PCR dan BACTEC.  

Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Biasanya akan dijumpai peningkatan Laju Endap Darah (LED) namun nilai LED yang normal tidak menyingkirkan diagnosis. Selain itu dapat dijumpai limfositosis
(tingginya kadar limfosit-salah satu jenis seldarah putih) pada hitung jenis leukosit (sel darah putih ).  

Pemeriksaan adanya penyakit TB kadang dilakukan dengan memeriksa
jaringan yang  dapat diperoleh melalui biopsi (pengambilan dan pemeriksaan jaringan) paru, biopsi pleura
(selaput paru), biopsi kelenjar getah bening yang membesar dan biopsi organ lain di luar paru. Dapat juga dilakukan aspirasi(menyedot) dengan menggunakan jarum halus.

Diagnosis pasti infeksi TB didapatkan bila pemeriksaan histopatologi pada jaringan paru memberikan hasil berupa granuloma (jaringan terinfeksi dengan sel yang khas pada infeksi TB yaitu sel darah putih datia langhans) dengan perkijuan.  

Pemeriksaan test tuberkulin ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB di daerah dengan prevalensi (kasus) tuberkulosis rendah. Di Indonesia karena angka prevalensi TB paru yang tinggi maka test tuberkulin sebagai alat bantu diagnosis
kurang berarti terutama pada orang dewasa. Test dilakukan dengan
penyuntikan ke kulit dengan bahan inaktif kuman tersebut yang kemudian akan dinilai dalam 2 hari.

Test dianggap positif bila terjadi pembengkakan atau kemerahan melebihi ukuran 15 mm. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi dari uji yang dilakukan sebelumnya atau bila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali. Test yang positif tidak
selalu diikuti dengan penyakit, sebaliknya test yang negatif tidak dapat menyingkirkan diagnosis TB paru.  

Walaupun beragam jenis pemeriksaan penunjang yang dilakukan yang
bertujuan untuk menemukan adanya penyakit TB paru sedini mungkin, namun tanpa kewaspadaan kita semua untuk mengenali adanya gejala TB pada orang di dekat kita atau bahkan kita sendiri dan memeriksakannya ke dokter, maka semua itu tidaklah berarti. Oleh karena itu jagalah kesehatan anda sebab dengan daya taha tubuh yang baik kuman ini tidak akan tumbuh dan yang juga cukup penting adalah periksakan diri anda ke dokter secara
teratur.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help